Anak mandiri

mandiri/man·di·ri/ dalam keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain – KBBI
image

Dalam tiga tahun pertama kehidupan, seorang anak mengalami suatu proses transformasi yang luar biasa drastis dan sangat signifikan. Dari bayi yang fully dependent to his parents, menjadi balita yang mulai (literally) berdiri di atas kedua kakinya sendiri dan menciptakan dunianya.
Anak saya sendiri, Nael, saat ini menginjak usia 17 bulan. Melihat tumbuh dan kembangnya rasanya ajaib. Seolah-olah baru kemarin saya gendong-gendong, sekarang sudah bisa lari. Rasanya masih dini ya mengajarkan kemandirian.. atau tidak?
Ternyata, anak sebelia ini memiliki kemampuan otak seperti spons. Saya khususnya melihat itu secara nyata dalam kehidupan Nael. Apa yang saya contohkan 1x saja, bisa langsung dia tiru instantly. Saya pun menyadari, bagaimana kalau di usia ini saya menanamkan nilai-nilai moral dan kemandirian ya? Apakah juga bisa diserap secara baik?
Amazingly, yes. Saya bukan pakar dan pengalaman saya tentunya masih sangat minim, tapi saya bersyukur bahwa sejauh ini Nael mengerti untuk melakukan hal-hal berikut:
– salam/salim saat bertemu keluarga,
– melambaikan tangan saat ada yang pergi,
– mengelus kepala sepupunya yang masih bayi,
– memberitau pada saat makanan di piring habis,
– meletakkan cucian baju kotor di tempatnya,
– mengetuk pintu saat akan masuk,
– menutup pintu setelah masuk ruangan,
– mengambilkan barang yang diminta oleh keluarga,
– mengembalikan mainan ke kotak,
– mengambil handuk saat akan mandi, dsb.
Bagi saya, mungkin tidak sepenuhnya benar ya, tapi kemampuan-kemampuan seperti itu jauh lebih penting dibanding mengenal bentuk-bentuk huruf. Nah, ada beberapa hal yang bagi saya membantu dalam mengenalkan semua kebiasaan itu kepadanya, seperti dalam beberapa poin berikut.

1. Masuk ke dalam dunianya
Masuk ke dalam dunia anak saya, atau sebaliknya, saya refleksikan perasaan dia ke dalam diri saya, kerapkali saya lakukan. Contohnya begini. Pada saat Nael gusar karena nyeri teething, khususnya gigi geraham, biasanya dia tidak mau ngapa-ngapain. Makan tidak mau, minum tidak mau, digendong tidak mau, didudukkan juga tidak mau. And worse, saya seringkali jadi bantalan gigitan dia karena apparently, tubuh saya yang penuh buntalan ini sangat empuk dan yummy untuk jadi sasaran gigit. Pada kondisi seperti itu, mudah saja untuk terbawa emosi. Akan tetapi, saya berusaha menempatkan diri saya di sepatu seorang anak usia satu tahun, dan membayangkan adanya tulang gigi sebesar geraham yang sedang menembus daging. Wew, kadang tergores kertas saja saya meringis. Dengan berempati, saya memahami struggle yang sedang Nael alami dan mampu meningkatkan level sabar yang dibutuhkan.
Begitu juga di dalam mengajarkan kemandirian. Penting kiranya jika kita mengerti dunianya, memahami betul level usia anak pada saat itu, dan life skills apa saja yang age-appropriate untuk diajarkan. Usia 1.5 tahun: memasukkan mainan setelah dipakai ke kotak, yes; mencuci piring bekas makannya sendiri, not yet. Atur ekspektasi kita dengan melihat level yang sudah dia capai, bagaimana melihat dari kacamata yang dia pakai. Jika ekspektasi terlalu tinggi, anak bisa stres karena merasa ‘dituntut’.

2. Practice makes perfect
Kita tidak bisa mengerjakan satu hal hanya selama 2-3 hari secara berturut-turut dan mengharapkan hal tersebut bisa langsung jadi a lifetime habit. No… dibutuhkan konsistensi dan latihan agar ‘bisa’ menjadi ‘biasa’. Jika hari ini kita mengajarkan anak untuk menutup pintu setelah masuk kamar, lakukan terus-menerus secara konsisten. Tahu dari mana bahwa akhirnya itu sudah menjadi kebiasaan? Pada saat tanpa kita beritahu, sudah dia lakukan dengan sendirinya.

3. Be captain and make a good team
Tidak masalah apakah kita ibu yang mengurus rumah tangga atau ibu bekerja, kita tidak bisa membesarkan anak seorang diri. Ada ayah, yang perannya sama besar dengan ibu. Ada kakek dan nenek, yang mengunjungi tiap akhir minggu. Ada om dan tante, yang mengajak main tiap sore. Ada asisten rumah tangga, yang bantu jaga anak saat kita do our own things like taking a bath, eating, etc. Siapapun itu yang berperan menjaga anak pada waktu-waktu tertentu tidak masalah, tapi pastikan bahwa orang tua lah yang tetap memegang kendali. Bukan berarti galak dan otoriter ya.. tapi pastikan bahwa practice yang sedang kita jalankan di poin nomor 2, dapat tetap berjalan pada saat bukan kita yang sedang menjadi caretaker anak. Jika biasanya anak menonton TV hanya maksimal 15menit dalam sehari, pastikan bahwa pada saat kita tidak ada pun, hal yang sama tetap sebisa mungkin dilaksanakan. Jadikan keluarga di sekitar kita sebagai tim yang bersama-sama mendidik anak.

4. Child is a good imitator
Ingin anak mandiri dan memiliki kebiasaan baik? Jawabannya ada pada pertanyaan, apakah kita sendiri memilikinya? Saya hingga saat ini masih terus belajar. Akuilah bahwa apa yang dilakukan anak tidak akan luput dari apa yang dicontohkan oleh keluarganya sehari-hari. Jika orang tua tidak pernah berdoa sebelum makan, jangan heran jika anak kebingungan saat diajarkan untuk melakukan hal tersebut. Bahkan, action speaks louder than words. Jika orang tua selalu menundukkan kepala sebelum makan, percayalah, tanpa perlu instruksi apa-apa, cepat atau lambat anak akan mengikuti. Karena simply itu yang dia lihat dilakukan oleh semua orang di rumahnya secara konsisten dan unconsciously dia akan merasa bahwa doa dan makan adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan.

5. Berani mendidik
Mengurus dan mendidik adalah dua entitas berbeda. Mengurus adalah menyiapkan makan, memandikan, mencuci baju, dsb. Akan tetapi, mendidik adalah mendukung saat ada kebaikan, mendengar saat ada keluhan, dan menegur saat ada kesalahan. Dan tidak sedikit orang tua yang tidak ‘tega’ mendidik. Keinginan apapun dipenuhi. Jatuh sedikit langsung dilindungi. Malas menyikat gigi dibiarkan. Habis bermain tidak usah merapikan mainan (karena jujur saja, lebih praktis kan kalau kita yang merapikan? Menunggu mereka yang merapikan itu membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra). Akan tetapi, saya rasa ini investasi yang waktunya hanya sebentar. Cukup sekian tahun pertama kehidupan namun dapat berefek jangka panjang, dan mudah-mudahan ke depannya dapat membantu anak menjadi pribadi yang mampu berpikir untuk dirinya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s