Review Taman Simalem Resort

Ya ampun baru sadar, padahal post yang ini saya buat 3 hari lalu, tapi ternyata belum dipublish. Gpp deh ya, jadi kebalik urutannya.

Yassh! Akhirnya setelah 29 tahun hidup, saya pun menginjakkan kaki pertama kali di tanah Medan. Kami mengikuti paket wisata dari Aulia Travel Medan selama 4d3n, dengan guide kami bernama Pak Z. Cerita soal travelnya, mungkin pada lain kesempatan. Yang pasti sangat2 recommended. Tapi ak mau cerita salah satu tempat menginap kami, Taman Simalem Resort (TSR).

TSR sebetulnya bukan bagian default dari paket tour yang ditawarkan. Tapi kami request untuk menginap di hotel ini di salah satu malam. Jadi ternyata danau Toba itu besaaar sekali dan saangaat indahh. Danau Toba sebetulnya merupakan Kaldera, jadi dia danau besar yang berada di tengah gunung-gunung. Jadi lanskapnya sangat indah dan luar biasa, dengan udara yang dingin. Di bagian tengah danau ada kubah yang kembali muncul dan menjadi Pulau Samosir. Kalau mau menyeberang ke Pulau Samosir, kita perlu ke area di sekitar tenggara danau Toba, yang dinamakan sebagai kawasan Parapat. Nah kalau TSR, lokasinya ada di sisi utara danau Toba. Jadi antara Parapat ke danau Toba (which means tenggara ke utara saja) butuh waktu sampai empat jam. Jadi kebayang ya betapa besarnya danau Toba.

TSR sendiri merupakan kawasan wisata yang luar biasa besar. Ga cuma hotel dan lodge, tapi ada bukit, taman bunga, pertanian agrowisata, dan berbagai fasilitas yang bisa dijadikan wisata. Jadi bukan tamu penginapan pun dapat masuk berwisata ke TSR, dengan biaya masuk per kendaraan. Kalaupun menginap di dalam, kita tetap butuh mobil sendiri karena saking luasnya tempat ini.

Di area internal hotel dan lodgenya sendiri, mobil justru ga bisa masuk. Mobilisasi menggunakan semacam buggy dan golf cart gitu. Suhu kamarnya sangaat dingin. Tidak ada AC, tapi tidur tetap kedinginan. Roomnya bernuansa kayu. Kamar mandi tanpa bath tub, tapi perkakas full Grohe. Balkonnya langsung menghadap ke Danau Toba.

Dinner disajikan di TSR hall dengan tema BBQ. Ada tusukan jagung dan udang bakar, nikmatt bgt. Rasanya pedas manis, menggigit.

Esoknya, kami pertama mengunjung One Tree Hill, yaitu bukit yang merupakan titik tertinggi di lingkup Simalem. Kenapa namanya begitu, karena ada gundakan tanah dan ada 1 pohon tinggi yang tumbuh di atasnya. Dan itu betul2 jd poin yang paling tinggi. Kabut kebetulan tebal sekali jadi malah ga bisa lihat ke bawah. Tapi kami malah merasakan bagaimana dipeluk kabut dingin di pukul 10 pagi.

Setelah itu, pergi menikmati Flower Meadow dan juga bertualang di dalam labirin. Sempat mampir ke Agrowisata, tanpa karena tour baru ada jam 3 sore, jadi hanya melihat2 perkebunan. Kami menyempatkan diri beli jus segar.

Tour Medan 4D3N

Okay, jadi sekarang saya mau cerita tentang travel ke Medan bulan lalu. Kenapa pakai jasa travel? Karena baru pertama kali ke sana, lalu setelah dilihat, butuh banyak sekali transpor antar satu tempat ke tempat lain, belum lagi makanan ga kenal. Kalau satu per satu diurus bisa lama, belum lagi jatuhnya mungkin lebih mahal. Jadi diputuskan mengikuti tour aja, karena udh all in, hotel-transpor-tempat wisata-makan. Travelnya pun fleksibel karena kami minta nginep di Simalem, bisa disesuaikan.

Kami berangkat menggunakan penerbangan pagi pukul 8. Tiba di Kualanamu sekitar jam 11, lalu dijemput menggunakan mobil. Pertama, dari bandara kita stop makan siang dulu di restoran Simpang Tiga, ini rumah makan padang, dan ayam gorengnya itu dilapisi tepung. Enak banget, Nael makan nasi 1,5 porsi, telor bulat Padang 1,5, dan ayam goreng 1 potong. Lalu perjalanan dilanjutkan ke area Parapat. Seperti yang saya sampaikan di post sebelumnya, Parapat lokasinya di tenggara dari Danau Toba. Parapat adalah tempat yang paling dekat untuk menyeberang ke Pulau Samosir. Melewati kota Siantar, kita mampir di toko oleh-oleh Paten.

Berhubung bawa anak kecil, jadi kita stop beberapa kali, beli minum lah, beli tissue lah, ke WC lah. Sampai di hotel kalau tidak salah sekitar pukul setengah 6 atau 6 sore, agak molor dari estimasi 4 jam. Kami menginap di hotel Patra Comfort Parapat. Saya ga yakin hotel ini bintang 2 atau 3, tapi review dari pengunjung cukup baik. Ruangannya sangat2 spacious sebagai ukuran kamar hotel, dan kami mendapatkan lake view, jadi di balik kamar langsung teras yang menyambung ke halaman dan pemandangan danau Toba. Makan malam disajikan di hotel Atsari Parapat, bersama dengan tamu2 travel lainnya. Dan disini disuguhkan teri medan bumbu cabe! Enak banget!! Udh ga mikir lagi makan nasi sebanyak apa. Ada sop bening wortel ayam yang Nael tambah berkali-kali.

Esok paginya, kami sarapan di buffet hotel. Menunya sangat sederhana, ada nasi, telor ceplok bumbu cabe, dan gorengan-gorengan. Tempat sarapannya terbuka dan membuka langsung ke pemandangan danau. Di hari kedua, kami checkout dan kemudian berangkat menuju Pelabuhan Ajibata, salah satu pelabuhan yang paling besar untuk penyeberangan ke Samosir. Saya bilang paling besar pun sebetulnya tetap termasuk kecil, beda tentunya dengan penyeberangan antar pulau.

Sebelum menyeberang, sejujurnya sempat khawatir, karena ada kejadian kapal tenggelam dsb. Tapi guide kami meyakinkan bahwa saat ini kapal2 yang ada sudah diregulasi dengan baik oleh pemerintah setempat. Secara strict penumpang yang masuk kapal tidak boleh melebihi kapasitas, dan pelampung yang masih berfungsi disediakan sesuai kapasitas penumpang. Oke, jadi kami tetap lanjut sesuai agenda. Kapalnya ada jadwalnya, tapi memang dari duduk sampai akhirnya kapal berangkat makan waktu cukup lama. Jadi untuk total waktu menunggu kapal berangkat, dari dan ke pulau Samosir, memakan waktu lebih dari sejam. Cukup sayang dengan agenda wisata yang cukup padat. Kalau mau menyeberang, lebih baik dipastikan jadwal keberangkatan kapal agar tidak banyak waktu terbuang percuma untuk menunggu kapal berangkat.

Kapal pun akhirnya berangkat, dan selama penyeberangan yang ga sampai satu jam, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Danaunya begitu tenang, udaranya sangat dingin, dengan pegunungan tinggi yang membatasi tepi2 danau. Kabut ada di mana2, dan meskipun matahari sudah mulai naik, belum terasa panas sama sekali. Indaah banget.

Tiba di Samosir, kami diajak melihat tari patung Sigale-gale dan makam Raja Sidabutar. Di sini ada banyak sekali tempat beli oleh2, dan kami belanja baju untuk orang rumah. Setelah kembali ke Parapat, perjalanan dilanjutkan dengan mobil menuju ke Taman Simalem Resort. Tempat makan siangnya lupa, yang jelas kami disuguhi lobster asam manis. Di perjalanan menuju TSR, kami singgah di air terjun Sipiso-piso, kabupaten Karo, yang mengalir ke danau Toba.

Hari ketiga, agenda wisata terutama di area Taman Simalem Resort. Siang pasca checkout, kami melanjutkan perjalanan ke kota Medan. Di kota Medan kami menginap di hotel LePolonia Medan, bintang 4. Hari keempat tidak ada agenda wisata, tapi kami mutar cari oleh-oleh, ke bika ambon Zulaikha, durian Ucok, dan bolu Meranti. Waktu kosong juga kami manfaatkan untuk beli es pokat kocok Bu Iya dan Soto Sinar Pagi. Karena masih ada jadwal luang, akhirnya kami mampir ke Istana Maimun. Setelah itu pun berangkat ke airport menggunakan kereta api bandara.

Pengalaman membuat Kartu Identitas Anak (KIA)

Hai! Saya mau share sedikit pengalaman kemarin membuat Kartu Identitas Anak (KIA).

Pertama sekali, saya mau kasi tau kalau skrg pembuatan KIA dilakukan melalui Kantor Kelurahan setempat. Berbeda dengan hasil2 searching via browser yang menyatakan bahwa kelengkapan dibawa ke Disdukcapil. Nope, saya kemarin coba ke Disdukcapil dulu sesuai info di internet, plus memang lebih mudah dicapai menggunakan mobil (kantor lurah tempat saya kebetulan jalannya agak sempit dan lebih nyaman pakai motor ke situ). Ternyata di Disdukcapil saya ditolak, petugas bilang ke Kelurahan, nanti petugas lurah yang akan urus ke Disdukcapil.

Okei, jadi kenapa saya buat KIA? Alasan satu-satunya sebetulnya untuk identitas Nael saat bepergian jauh di dalam negeri, terutama kalau pakai pesawat. Kalau keluar negeri justru lebih sederhana karena cukup pakai paspor. Tapi domestik? Waktu itu buat jaga-jaga kalau ditanya identitas, saya sampai bawa fotokopi akte lahir Nael. Repot kan yah.. Sehingga saya putuskan untuk buat KIA, karena simpel, jelas, berlakunya lama (sampai anak usia 17th 355hari), dan muat di dompet. Serta merupakan bukti identitas yang sahih, sama seperti KTP untuk kita.

Syarat pembuatannya sederhana sekali, dengan membawa berkas berikut:

  • Fotokopi KTP ayah dan ibu
  • Fotokopi akte pernikahan (atau buku nikah)
  • Fotokopi akte lahir
  • Fotokopi kartu keluarga

Karena usia Nael di atas usia 5 tahun, dibutuhkan juga pas foto. Kebetulan saya cuma bawa ukuran 2×3 dan 3×4, ternyata diminta 4×6. Karena saya bilang ga bawa, boleh2 aja pakai yang 3×4.

Saat ke kantor lurah puji Tuhan antrean lagi kosong, saya bilang mau buat KIA dan serahkan berkas, petugas cek kelengkapan, dan langsung dibuat tanda terima untuk pengambilan dalam waktu 1 minggu. Lima menit selesai. Minggu depannya, sama juga, ga ada antrean, saya serahkan bukti tanda terima, dan KIA Nael sudah jadi sehingga bisa langsung saya ambil. Jangan lupa sebelum pergi, cek nama anak, nama ayah, tanggal lahir, dan ketikan lainnya pada kartu agar tidak salah. Mudah dan cepat banget yah. Yang pasti sekarang Nael sudah punya kartu identitas valid sebagai anak Indonesia.

Review Trans Snow World Bekasi

Haii! Latest attraction yang kami kunjung adalah Trans Snow World Bekasi.

Untuk mencapainya, keluar dari tol Bekasi Timur. Dari situ ke lokasi ga lama, mungkin sekitar 10-15 menit aja, tergantung traffic. Seperti wahana Trans lainnya, Trans Snow World berlokasi satu gedung dengan TransMart, tepatnya di lantai paling atas. Begitu naik eskalator, kita langsung disuguhi pemandangan salju yang ada di balik dinding kaca. Belok kanan dan akan ada loket pembelian tiket.

Harga tiket masuk Trans Snow World adalah Rp 275,000 per orang, dan hanya berlaku selama 2 jam. Harga itu termasuk penyewaan sepatu boots dan dapat socks gratis. Untungnya lagi ada promo, pengunjung dengan KTP Jabodetabek dapat potongan Rp 50,000 per orang, lumayan banget kan!

Begitu masuk, jangan lupa ukur ukuran boots menggunakan template yang ada di sisi kanan dinding. Setelah ukuran boots dicatat, barulah tukar sepatu kita dengan boots. Kita akan dapat gelang elektronik (bentuk kotak semacam smartwatch) yang memiliki fitur warna untuk penanda sudah berapa lama sisa waktu kita. Lampu akan nyala dan bergetar saat sisa waktu 10 menit. Harus waspada karena kalau lewat waktu, denger2 akan ada biaya tambahan yang harus kita bayar. Oya, loker ada, tapi sewa ya. Kalau mau bawa tas kecil masuk ke dalam untuk barang berharga bisa kok, ga dilarang.

Nah, wahananya sendiri sebetulnya sederhana. Ada area cukup besar yang cuma ada gunukan salju, di situ kita bisa main-main bentuk-bentuk snowman, dll, karena saljunya relatif lunak dan bisa dibentuk. Lalu ada area cable car, sledding, ski, dan juga bola. Untuk cable car udh included di dalam harga tiket masuk, aka gratis. Dan kalo udh 1 puter, mas-masnya biasanya nawarin mau lagi atau mau turun. Jadi it’s okay untuk lanjut cable car lagi. Untuk ski tentunya kami ga nyoba, tapi kita sewa 1 papan dan 1 ban untuk sledding. Ini seru banget! Ga cuma anak, orangtua pun nyoba dan bikin nagih.

Salah satu yang aku suka, merchandise dan makanan yang ada di sini ga getok harga. Baik di luar ataupun dalam wahana salju, ada area penjualan atribut pakaian dingin seperti kupluk, jaket, dll. Harganya sangat terjangkau, sarung tangan kalo ga salah 20ribu, topi kalo ga salah 40ribu. Dan ini untuk benda yang bisa dipakai ulang ke depannya. Lalu ak sempat intip, menu seperti spaghetti harganya 17ribu. Ga tau sih porsinya seperti apa, tapi ini ga sesuai ekspektasiku yang mengira wah pasti harga-harga di dalam jauh lebih mahal.

Worth it ga? Menurutku worth it banget. Pertama, wahana salju di Indonesia ga banyak. Kalo mau ngerasain, harus ke pegunungan tinggi. Ga mgkn kan? Negara tetangga jg ga banyak yg pny salju. Jadi wajar harga segitu untuk dapat menikmati wahana yang ga byk ini. Kedua, waktu 2 jam itu lebih dari cukup kok. Kita bisa enjoy tanpa terburu-buru, dan pasti yang ingin kita coba sempet kok untuk dicoba. Wahananya bukan yang guede banget gitu. Ketiga, jaraknya juga ga jauh2 amat dari Jkt.

Disclaimer

Mungkin saya akan angkat topik-topik mengenai mata. Berhubung ini blog, jadi my disclaimer, saya mungkin ga akan mencantumkan referensi atau citing secara resmi seperti karya ilmiah. Tapi ini kurang-lebih menjadi catatan saya pribadi dari apa yang saya dapat di klinik. Dan untuk saya sendiri pelajari lagi di masa yang akan datang.

Back in three years

Wow! Welcome back, Hanna.

Kalau dilihat, terakhir post itu bulan Juli 2016, exactly at the start of my residency program. Sekarang berarti sudah memasuki tahun ke-empat (yeay) dan setelah maraton stase sendiri-deskriptif-proposal-revisi proposal, tiba-tiba hari ini dirasa ada waktu dan tempat untuk menulis.

Menulis udah jadi hobby saya sejak lahir (lebay). Sedini usia 5-6 tahun saya udah sering nulis cerita pendek di kertas notes dan binder kecil. Waktu SD saya nangis karena novel karangan yang udah lebih dari 40 halaman, hilang ga berbekas karena komputer crash atau diupdate atau sesuatu yang waktu itu saya ga terlalu ngerti. Bentuk komputernya masih yang gendut ke belakang dengan PC segede gaban. Sampai detik ini saya masih ingat bayangan bentuk microsoft word nya, judulnya, dll.

Saat menulis saya masuk ke dunia saya sendiri. Saya mendapati satu mood khusus yang ga akan pernah muncul saat melakukan kegiatan lain. Salah satu aktivitas yang mendekati mood seperti itu adalah saat traveling sendirian, contohnya saat saya merantau ke Taipei dulu. Di luar itu, saya belum mendapati hobi atau kegiatan lain yang dapat fulfill needs saya untuk menulis.

Enam tahun terakhir, saya mengalami banyak sekali perubahan dalam hidup. I got married, had my firstborn son, dan diterima residensi. The first two years of being a mother, I had a dramatic shift in myself. Waktu itu ‘Hanna’ hilang dan berubah menjadi ‘Mama N’ (N nama anak saya maksudnya). I lost myself, I lost my times to write, but my heart grew to three-four times bigger to accommodate the love for my son. I never knew that my heart could contain the love that big. I postponed all my work plans to be able to breastfeed him directly. Laptop dan kertas-kertasku tersimpan rapi, hidupku berkutat dengan menyusui mengurus anak memberi makan memandikan dan mengajak main.

Tapi 3-4 tahun usia anakku, dan life definitely could be back. Ternyata aku bisa kembali menjadi ‘Hanna’ dan tetap menjadi ‘Mama N’. Ditambah dengan kehidupan residensi, ada kalanya semua begitu gelap. Tapi then.. I took back my papers, I wrote, and here I am now. Back to my sanctuary.

Will it be regular? Not sure. But this is my kind of addiction. Writing is my outlet.

Welcome back, Hanna.

Menyusui eksklusif ga perlu KB?

Pagiii. Hari ini aku bumped into twitter newsfeed di mana ada yang menjawab konsumen bahwa dia ga perlu KB selama menyusui eksklusif dan belum mendapatkan siklus. Sebetulnya bener ga sih menyusui bisa jadi alat KB?

Betul. Menyusui eksklusif merupakan salah satu metode KB. Tapi ada banyak hal yang perlu kita bahas untuk masalah ini.

Nama metodenya adalah LAM atau lactational amenorrhea method. Intinya pada saat menyusui kita akan mengalami periode amenorrhea atau tidak haid. Itu terjadi karena hormon2 yang bekerja memproduksi ASI juga menekan terjadinya siklus menstruasi, yang berperan untuk kesuburan. Tapi ada satu catatan: untuk LAM ini berhasil, ibu harus memenuhi yang namanya ASI eksklusif.

Nah, definisi ASI eksklusif ini yang sering kali diketahuinya cuma setengah2. Syarat ASI eksklusif untuk menjadi LAM adalah:

  1. Bayi menyusui LANGSUNG (bukan via dot atau media apapun)
  2. Bayi menyusu minimal 8x sehari
  3. Bayi belum berusia 6 bulan
  4. Bayi hanya diberi ASI tanpa air putih atau minuman/makanan lainnya
  5. Ibu belum mendapatkan siklus haid
  6. Ibu tidak terpisah dengan bayi lebih dari 6 jam

Dengan hal2 tersebut dapat dilihat ya bahwa untuk mengandalkan LAM sebagai metode KB, ada banyak hal yang harus dipenuhi dan satu gaya hidup yang harus dipertahankan. Karena secara definisi WHO, ASI ekslusif adalah pemberian ASI kepada bayi full selama enam bulan pertama tanpa asupan lain, baik menyusu langsung ataupun melalui media lain. Jadi WHO hanya melihat yang penting ASI. Tapi untuk terjadinya metode KB yang efektif, bayi harus menyusu langsung min 8x sehari.

Memang di sini lah definisi ASI eksklusif sering salah kaprah. Malah ada yang bilang, “mau ASI eksklusif sampai anak usia 2 tahun.” *tepok jidat* itu bukan eksklusif lagi namanya. Jelas2 anaknya sudah pasti makan makanan yang lain toh?

Nah kalau tidak bisa memenuhi syarat2 di atas, lalu bagaimana? Segera pertimbangkan metode KB yang lain. KB adalah Keluarga Berencana, jadi ini ngomongin rencananya keluarga itu apa. Fungsinya ada 3: menunda (yang belum punya anak), menjarangkan (yang sudah punya anak), menyetop (yang sudah tidak mau punya anak lagi). Ga ada baik atau buruk, pokonya mengatur sesuai rencana keluarga masing2. Kalau secara finansial belum siap pny anak dalam 5 tahun ke depan, ya udah pakai KB.

Pilihan metodenya apa? Sangat bergantung sama masing2 keluarga. I will share it on another post later.

Terus, apa benar selama belum siklus haid berarti belum subur? Sama sekali salah. Kita perlu mengerti makna dari siklus menstruasi. Jadi pada saat subur, dinding rahim menebal sebagai media agar pada saat terjadi pembuahan (sel ayah bertemu sel ibu), sel zigot bisa tertanam di situ dan berkembang. Kalau tidak ada yang tertanam, maka dua minggu kemudian dinding rahim itu akan luruh sebagai bentuk menstruasi. Setelah itu, secara periodik perlahan2 dinding rahim kembali menebal guna sebagai persiapan untuk menerima sel zigot lagi.

Jadi kalau belum menstruasi, belum tentu kita belum subur. Karena pada saat kita pertama kali menstruasi kembali setelah melahirkan, dua minggu sebelum menstruasi itu justru kita sudah subur. Ada kan orang yang setelah melahirkan, belum pernah menstruasi, tapi tiba2 hami lagi. Ya begitu ceritanya, hehe..

Jadi kesimpulannya adalah bahwa, agar menyusui eksklusif berhasil sebagai metode KB, ada banyak syarat yang harus diperhatikan dan dipenuhi, dan bahwa, belum mendapatkan siklus menstruasi bukan berarti belum subur.